
Kemarin, 1 oktober 2010, aku mengadakan acara mitoni atau tujuh bulanan di rumah mertua. Aku dan suami memang asli keturunan jawa, tapi kami dan orang tua kami gak begitu paham dengan adat-adat jawa. Dulu, waktu acara nikahan kami pun, segala macam adat jawa yang dijalani murni instruksi dari si dukun manten. Begitu juga adat-adat saat kehamilanku.
Sebelumnya, kurang lebih 3,5 bulan lalu, papa-ku juga mengadakan acara "ngupati" di rumah beliau. Ngupati berasal dari kata papat atau empat dan kupat. Acara ini diselenggarakan dalam rangka syukuran kehamilan usia 4 bulan, dimana konon di usia ini janin dalan kandungan ditiupkan nyawanya oleh Yang Maha Kuasa. Tapi di kampung tempat ayahku tinggal, acara ngupati ini diadakan bukan saat usia kandungan 4 bulan, melainkan usia kandungan 3 bulan 10 hari... Acaranya berupa pengajian, membaca sura Yasin, Surat Yusuf (konon agar bila anaknya laki-laki akan setampan nabi Yusuf) dan surat Maryam (dan jika anaknya perempuan, maka budi pekertinya akan semulia Siti Maryam). Ibu-ibu dilingkungan situ juga membuat bedak dari tumbukan beras kencur yang sudah dibacakan surat-surat tersebut untuk dioleskan ke perut si ibu hamil.
Nah, acara syukuran selanjutnya adalah "mitoni", atau 7 bulanan. Beberapa teman yang sudah punya anak memberikan pendapatnya. Kata sebagian dari mereka, kalau kita sudah mengadakan acara ngupati, maka acara mitoni tidak perlu diadakan. Mitoni berasal dari kata "pitu" yang artinya adalah tujuh. Inti dari acara ini adalah meminta kesehatan dan keselamatan bagi ibu dan janin yang dikandungnya. Kalau berdasarkan adat murni jawa, acara mitoni cukup ribet juga karena terdiri dari;
1. Siraman, si calon ibu dimandikan dengan air yang berasal dari 7 mata air yang berbeda. Siraman dilakukan oleh 7 orang yang dituakan dalam keluarga.
2. Memasukan telur oleh calon ayah melalui perut istrinya. Dengan harapan, bayi akan lahir dengan lancar tanpa ada aral melintang. Dan konon, kalau telur yang dijatuhkan pecah berarti anak yang dikandung adalah perempuan, pun sebaliknya, jika tidak pecah maka anaknya laki-laki.
3. Calon nenek menggendong kelapa gading yang kedua sisinya digambari tokoh Kamajaya (laki-laki) dan dewi Ratih (perempuan) yang kemudian dimasukkan ke dalam sarung/kain yang dipakai calon ibu. Setelah itu calon ayah mengambil kelapa itu dan dibelah menjadi 2. Potongan kelapa yang lebih besar dibagian gambar yang mana akan menunjukan jenis kelamin anaknya kelak.
4. Upacara ganti jarik 7 rupa. Si calon ibu akan dipakaikan 7 macam motif jarik. Motif yang umum digunakan adalah sidomukti, sidoluhur, truntum, parangkusuma, semen rama, udan riris dan cakar ayam.
Selain rentetan tata cara diatas tadi, ada juga beberapa adat yang tiap kampung bahkan tiap keluarga berbeda-beda. Ada yang pakai acara menangkap belut, jualan dawet atau rujak, dan lain-lain.
Tapi tenang saudara-saudara, acaraku kemarin cukup sederhana kok hehehehe...
Dimulai sore habis ashar, suamiku mengumpulkan anak-anak kecil dan membuat uang-uangan dari pecahan genting untuk (pura-puranya) membeli dawet dan rujak yang aku jual di depan rumah. Dan...jualanku laris manis lho... omset 40 juta dollar alias 40 keping pecahan genting hehehe... Dilanjutkan malamnya sehabis Isya, pengajian Yasinan dengan mengundang warga sekitar dan teman-teman dekat.
Intinya kan minta di doakan biar Si ibu dan si Jabang bayi sehat dan selamat kan... Amiiin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar